Manusia dan kebimbangannya
Ada kalanya setiap yang dijalani mengalami degradasi secara frontal. Semangat mengarungi kehidupan serta bahtera perjalanan di dunia semu semakin tipis tak terhitung. Mencapai titik nadir rendah akan adanya sebuah kejenuhan yang luar biasa mendera. Lupa untuk mengingat bahwa kehidupan memang seperti roda, berputar dan berputar. Ada kalanya bertahan lama, ada kalanya juga hanya sesaat dan kembali ketitik awal serta titik jenuh nan memuakkan.
Semuanya diawali dari rasa lelah akan rutinitas yang itu-itu saja. Menyenangkan memang bisa melakukan yang orang lain belum tentu mau dan bisa melakukan, namun roda itu selalu berputar dan kita tidak bisa menafikan itu semua. Mungkinkah ini semua adalah akumulasi atas semua yang telah terlewati?
Terkesan sepele dan menjenuhkan, namun itulah yang terjadi. bagaimanapun juga saat ini, rasa ini sulit untuk diidentifikasikan. Terlalu mangawang dan sangat nisbi. Hanya bisa dirasakan dan hanya ingin dilupakan. Menunggu adalah salah satu caranya. Namun tak jarang banyak orang juga yang berputus asa.
Setiap yang terjadi pada manusia memang berbeda-beda tergantung kapasitas dari orang tersebut. Akan tetapi semuanya bisa merasakan, inilah yang nyata ada, namun kenapa tak bisa sekejap tuk dihilangkan? Adakah formula khusus yang mampu mengatasinya? Ataukah hanya menunggu bak menanti sesuatu yang sebenarnya kita tidak juga tahu apa itu sebenarnya.
Bukan manusia namanya jikalau tidak mencari jalan keluarnya, pun Tuhan yang tak mungkin membiarkan hambanya tergelincir jikalau memang Ia berkehendak. Sedikit semangat dan senyum datang membantu, meski tak bisa secara gamblang bisa teratasi, namun setidaknya sudah ada jalan yang bisa dilalui sehingga tidak mustahil semuanya akan kembali lagi menjadi menyenangkan.
Pragmatisme, opportunis, agitasi sempat membantu melancarkan keinginan itu. Tinggal mencari bagaimana mengaturnya dan memberikan proporsi yang sesuai untuk menjadikannya sebuah senjata baru yang ampuh untuk mengembalikan itu semua. Tantangannya adalah bukan pada kemampuan tetapi pada kemauan. Tetapi pada kemauan, maukah kita untuk kembali mengumpulkan dan memformulasikannya menjadi sesuatu yang indah itu?



niko 7:33 am pada 27 Februari 2011 Permalink |
pertamaxxxx